Salam semangat... dan semoga
hari-hari yang akan kita lalui esok menjadi hari yang terbaik dari hari
sebelumnya.
Sabtu,24 November 2018 kami lalui
dengan penuh semangat dan rasa keingin tahuan tentang literasi yang dikhususkan
untuk para pendidik PAUD.Kami menghadiri WorkShop LITERASI PENDIDIK PAUD di
Kecamatan salaman Kabupaten Magelang dengan Nara Sumber penulis terkenal di
Idonesia yaitu Bapak Triman Laksana.
Triman laksana adalah pengarang
sastra jawa periode kemerdekaan. beliau mengawali karir dari seorang juru masak
di salah satu rumah makan Sahid Gorden Hotel. jika tidak sedang dinas beliau
mengisi waktu luang dengan menulis. Kendati begitu,lelaki tamatan SMA kelahiran
Yogyakarta, 7 Juni 1961, yang kini tinggal bersama istri dan empat orang putra
di Sayidan GM II/97, Yogyakarta 55121 ini masih terus mengarang.Seperti umumnya
para pengarang Jawa lainnya, Triman Laksana pun mengarang dalam bahasa
Indonesia.
Karangan-karangannya, baik
berupa guritan/puisi,cerkak/cerpen,cerbung/novel, maupun artikel/esai,
telah tersebar ke berbagai media massa lokal dan nasional (Jakarta, Bandung,
Bali,Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Banjarmasin, dan sebagainya).
Selain itu, ia juga menulis dan
mempublikasikan beberapa karyanya dalam antologi bersama, di antaranya, dalam
antologi Momentum(30 Penyair Yogya),Alif Lam Mim(Sanggar ASA,
ESKA),Langit Biru Langit Merah(tahun?),Rembulan Padhang ing Ngayogyakarta(FKY
IV, 1992),Pangilon(FKY VI,1994),Pesta Emas Sastra Jawa(FKY VII, 1995),
dan Pisungsung: Antologi Geguritan lan Cerkak (Pustaka Pelajar,
1997).
Dalam berkarya (mengarang) Triman
Laksana boleh jadi cukup serius;dan keseriusannya telah mengantarkannya
memperoleh beberapa penghargaan dalam berbagai lomba. Sebagai misal, pada tahun
1993 ia menjadi juara II dalam lomba penulisan geguritan yang
diselenggarakan oleh Forum Dinamik Wonogiri; pada tahun 1994 juga menjadi juara
II dalam lomba menulis artikel berbahasa Jawa yang diselenggarakan dalam rangka
Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) VI di Yogyakarta. Tentu saja beberapa
penghargaan ini lebih memacu Triman untuk lebih aktif dan kreatif dalam
bersastra.
Banyak hal yang kami dapat ketika
bertemu dengan beliau Bapak Triman Laksana. Pertemuan yang hanya
terlaksana kurang lebih 5 jam membahas tentang Mengolah Hati, Rasa, Pikir, dan
Raga. Dimensi pengolahan karakter tersebut menjabarkan
bagaimana sesorang memiliki karakter yang bisa mengolah hati, rasa,
pkiran, dan raga untuk berliterasi.
Literasi adalah sebuah kegiatan mengungkapkan ide atau gagasan secara
tertulis. Secara umum literasi tidak lagi diartikan sebagai kegiatan baca
tulis, tetapi memiliki makna yang lebih luas yang mencakup pemahaman yang baik
terhadap berbagai aspek kehidupan.
UNESCO mengartikan literasi atau keaksaraan sebagai
rangkaian kesatuan dari kemampuan menggunakan kecakapan membaca, menulis, dan
berhitung sesuai dengan konteks yang diperoleh dan dikembangkan melalui proses
pembelajaran dan penerapan di sekolah, keluarga, masyarakat, dan situasi
lainnya yang relevan untuk remaja dan orang dewasa. Dalam tiga dekade terakhir,
pemahaman tentang cakupan literasi telah berkembang, yang meliputi (a) literasi
sebagai suatu rangkaian kecakapan membaca, menulis, dan berbicara; kecakapan
berhitung; dan kecakapan dalam mengakses dan menggunakan informasi; (b)
literasi sebagai praktik sosial yang penerapannya dipengaruhi oleh konteks; (c)
literasi sebagai proses pembelajaran dengan kegiatan membaca dan menulis
menjadi medium untuk merenungkan, menyelidik, menanyakan, dan mengkritisi ilmu
dan gagasan yang dipelajari; (d) literasi sebagai teks yang bervariasi menurut
subjek, genre, dan tingkat kompleksitas bahasa.
Dengan demikian, tampak bahwa literasi begitu penting. Literasi tidak
lagi dipahami hanya sebagai transformasi individu semata, tetapi juga sebagai
transformasi sosial.
Rendahnya tingkat literasi sangat berkorelasi dengan
kemiskinan, baik dalam arti ekonomi maupun dalam arti yang lebih luas. Literasi
memperkuat kemampuan individu, keluarga, dan masyarakat untuk mengakses
kesehatan, pendidikan, serta ekonomi dan politik. Dalam konteks kekinian,
literasi tidak lagi hanya sekadar kemampuan baca, tulis, dan berhitung, tetapi
juga melek ilmu pengetahuan dan teknologi, keuangan, budaya dan kewargaan,
kekritisan pikiran, dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Oleh karena itu,
masyarakat Indonesia harus menguasai literasi yang dibutuhkan untuk dijadikan
bekal mencapai dan menjalani kehidupan yang berkualitas, baik masa kini maupun
masa yang akan datang.
Jadi kesimpulan yang kami dapat urgensinya seorang pendidik PAUD harus
berliterasi adalah dengan berliterasi para pendidik akan lebih mudah dalam
menumbuhkan minat baca dan minat belajar anak yang mandiri sepanjang hayat,
contoh kecil dalam lingkungan sekolah jika guru mampu menanamkan literasi
dengan menghasilkan peserta didik suka membaca, maka yang akan terjadi guru
sebagai agen of change sukses merubah
dunia mereka menjadi lebih baik untuk masa depan mereka sejak usia dini.
Semoga tulisan ini bermanfaat
bagi para pembaca.
By. Soraya2018